Perkuat Kompetensi Dan Jejaring, SCC Ikuti Workshop Di UNSRI

26 Oct 2016 | 03:47 - - 1244 kali dibaca

 

Palembang, Career Center. – Menyadari beratnya tanggung jawab atas amanah penguatan kapasitas dan kualitas output/lulusan STISIP Mbojo Bima. Agar mampu meningkatkan prosentasi serapan alumninya di dunia kerja. STISIP Mbojo Bima Career Center (SCC) megikuti acara “Workshop Layanan Pusat Karir” yang diselenggarakan oleh Indonesia Career Center Network (ICCN), pada Selasa (25/10/2016).

 

Workshop Padu Sarat Ilmu 

Acara yang diikuti oleh puluhan Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta di Indonesia itu. Berlangsung di Gedung Pasca Sarjana Magister Managemen Universitas Sriwijaya (Unsri) Palembang. Kegiatan dibuka langsung oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Dr. dr. Mohammad Zulkarnain, M.Med.Sc.

Workshop berlangsung sangat dinamis, penuh keakraban. Menghadirkan empat pembicara, yang merupakan pakar di dunia karir perguruan tinggi.

Tampil sebagai pembicara pertama Presiden ICCN, Dr. Eng Bambang Setia Budi. Pria berkacamata, yang akrab disapa Mas Presiden dikalangan ICCNer itu, adalah Direktur ITB Career Center.

Dalam ulasannya, ia mengupas tentang pentingnya berjejaring.

“ICCN kita harapkan dapat menjadi sarana mempercepat pembelajaran, wawasan, dan pengembangan pusat karir. Khususnya yang baru dibentuk. Termasuk memposisikan sebagai wadah silaturahim dan komunikasi antar pusat karir. Baik secara individu, maupun kelembagaan,” jelasnya.

Selain itu, menurut Bambang, diharapkan ICCN dapat menyelesaikan masalah-masalah dalam semua layanannya seperti rekrutmen atau standardisasi pusat karir. Juga, melakukan penguatan wawasan untuk pilihan ragam pertimbangan. Serta strategi kebijakan institusi masing-masing perguruan tinggi.

“Penguatan peran dan fungsi Pusat Karir universitas dalam menghadapi MEA. Dan berbagai Isu regional maupun global. Serta, mempermudah dalam membuat agenda bersama. Guna penguatan jejaring. Termasuk, membuka peluang kerja sama secara nasional,” imbuh pria low profile ini.

Dalam kesempatan itu, Dosen arsitektur ITB ini, juga menceritakan pengalamannya saat menghadiri undangan NCDA Global Career Development Conference di Chicago, yang dihadiri ribuan peserta dari berbagai Negara, beberapa waktu lalu.

“Tujuan NCDA itu sangat mirip dengan ICCN kita ini. Saya bahkan, tidak tau apakah NCDA nyontek program kita, ya?,” ujarnya berseloroh.

Tampil sebagai pembicara kedua, Kepala Career Development Center (CDC) Unsri, Prof. Dr. Ir. Nuni Gofar, MS. Wanita yang akrab disapa Mbak Prof ini, merupakan Guru Besar Pertanian Unsri. Menjelaskan tentang pengalaman perdananya, dalam menyelenggarakan Jobfair secara mandiri.

Sebagaimana diketahui. Dalam menyelenggarakan event jobfair, selama ini, Unsri, menggandeng Event Organizer (EO) dari luar kampus.

“Kali ini, kami bekerjasama dengan ICCN. Dan sangat terasa nilai lebihnya. Sekarang, kami bisa menyelenggarakan Jobfair gratis. Sehingga, tidak memberatkan jobseeker/pencari kerja. Termasuk, kami mendapat bimbingan intensif dari ICCN. Sehingga, insya Allah kedepannya Unsri dapat menyelenggarakan Jobfair secara mandiri,” ujar wanita enerjik ini.

Namun, meski demikian. Pencapaian awal, acara jobfair kali ini, cukup menggembirakan. Terbukti lebih dari 4.700 peserta telah mendaftar secara online, sebelum event jobfair itu sendiri dibuka. Dan, tentu saja jumlahnya akan terus berlipat. Jika dikalkulasikan dengan kunjungan/pendaftaran offline. Serta, diikuti hampir 20 perusahaan. Capaian fantastic untuk sebuah event perdana.

Selanjutnya, hadir sebagai pembicara ketiga,  Ir. Wiratno A. Asmoro, M.Sc dari ITS. Penggiat pusat karir, yang juga mantan kepala Student Advisor Center (SAC) ITS tersebut, sudah makan asam garam. Dalam pengembangan dan monitoring pusat karir di Indonesia.

Dengan gaya lugas, santai, dan sesekali dibumbui canda ala akademisi. Wiratno menjelaskan berbagai strategy pengelolaan pusat karir.

“Tugas pusat karir itu bukan hanya di akhir saja. Tapi, sangat penting dilakukan sejak dini, pemetaan atas potensi mahasiswa. Dengan memberikan tes psikologi dan konseling, kita dapat mendaptkan data kompetensi mahasiswa kita. Dari situ baru dapat diambil tindakan yang tepat,” jelasnya.

Hal itu, menurutnya sangat penting dilakukan di tahun awal. Selanjutnya dipertengahan masa kuliah mahasiswa diberikan penguatan-penguatan sesuai data pemetaan awal tersebut.

Sementara, di akhir masa kuliah, mahasiswa harus banyak diberikan pelatihan.

“Yang paling mudah itu dengan menghadirkan para alumni yang sudah bekerja untuk melatih. Jadi bisa gratis. Bisa kita gunakan, strategy memanfaatkan mata kuliah Kapita Selekta, misalnya. Bisa dipakai waktu Sabtu-Minggu, untuk mentaktisi waktu kerja para pemateri yang diundang. Tapi, ingat semua harus dikomunikasikan dengan pihak terkait, termasuk dosen-dosen di kampus,” pungkas Wiratno.

Amrin Rapi, ST, MT, Direktur Politeknik ATI Makassar. Hadir sebagai pembicara keempat. Pria yang aktif di IPM Sulsel ini, mengkisahkan, tentang berbagai strategy jitu penguatan pusat karir di kampusnya. Telah terbukti sangat membantu menyelesaikan masalah lapangan kerja alumninya.

“Target kami adalah, mahasiswa diterima kerja, sebelum di wisuda. Dan, puncak kesuksesan kami terjadi ketika di tahun 2016 ini. Sebanyak 72% alumni kami diterima sebelum wisuda,” jelas alumni Teknik Mesin Unhas angkatan tahun 1988 itu, bersemangat. Disambut gemuruh tepuk tangan peserta workshop.

Acara workshop kali ini. Semakin semarak di bawah panduan dosen psikolog Unversitas Padjajaran, Bandung, Teh Iyang, yang jeli membaca situasi forum.