Pengangguran Sarjana Lebih Tinggi Dari SMA/SMK

11 Oct 2016 | 19:07 - - 149 kali dibaca

Gelar sarjana tidak menjamin seseorang untuk mendapatkan pekerjaan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Agustus 2014, di Indonesia ada 9,5 persen (688.660 orang) dari total penganggur yang merupakan alumni perguruan tinggi. Mereka memiliki ijazah diploma tiga atau ijazah strata satu (S-1) . Dari jumlah itu, penganggur paling tinggi merupakan lulusan universitas bergelar S-1 sebanyak 495.143 orang. Ternyata yang paling banyak menanggur di Indonesia bukan lulusan SMA ke bawah melainkan lulusan perguruan tinggi. 

Berdasarkan hasil studi Willis Towers Watson tentang Talent Management and Rewards sejak tahun 2014 mengungkap, delapan dari sepuluh perusahaan di Indonesia kesulitan mendapatkan lulusan perguruan tinggi yang siap pakai. Fakta ini menunjukkan banyaknya sarjana yang tidak terserap dunia kerja. Yang ada kemudian adalah masih diadakan pelatihan seperti management trainee bagi lulusan oleh perusahaan. 

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah mengapa banyak lulusan perguruan tinggi yang tidak mendapatkan pekerjaan?

Setidaknya ada tiga alasan yang bisa menjelaskan fenomena ini. Pertama adalah banyaknya sarjana yang tidak memiliki kemampuan wajib sebagai seorang lulusan universitas. Richard Arum dalam bukunya yang berjudul Academically Adrift: Limited Learning on College Campuses mengatakan bahwa ada tiga kemampuan wajib yang harus dimiliki oleh seorang sarjana.

Pertama adalah kemampuan berfikir kritis, yakni kemampuan untuk memeriksa validitas, reliabilitas, dan konsistensi logika atas sebuah informasi. Kedua adalah kemampuan komunikasi, yakni kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain. Kemampuan ini meliputi berbicara, mendengar, menyimak, dan menempatkan diri dalam interaksi. Ketiga adalah kemampuan menulis, yakni kemampuan untuk menuliskan gagasan, ide, dan informasi dalam alur yang logis, mudah dipahami, dan relevan terhadap masalah.

Banyak sarjana di Indonesia tidak memiliki ketiga kemampuan ini. Dalam kemampuan berfikir kritis misalnya, banyak sekali lulusan perguruan tinggi di Indonesia yang sangat lemah dalam memeriksa validitas dan reliabilitas, alur logika, dan relevansi sebuah informasi yang ada di hadapan mereka.

Ketika disodori sebuah permasalahan dalam dunia kerja, mereka tidak mampu mengurai masalah, mencari akar masalah, membedakan antara fakta, opini, pengalaman, kepercayaan dan hasil observasi dalam masalah tersebut. Akhrinya mereka tidak dapat menyelesaikan masalah tersebut. Rendahnya kemampuan untuk menyelesaikan masalah ini menunjukkan gagalnya pendidikan tinggi kita hari ini.

Hal ini selain disebabkan oleh rendahnya minat baca dan pendidikan yang tidak menekankan pada kemampuan berfikir kritis. Rendahnya minat baca ini disebabkan oleh pendidikan dasar hingga menengah atas yang menekankan pada hafalan daripada penalaran.

Dalam soal ujian misalnya para siswa akan dituntut untuk menyebutkan jawaban ketimbang menyelesaikan masalah. Dalam ilmu sains para siswa akan dipaksa untuk menghafal rumus tanpa paham konteks dan makna rumus tersebut. Ketika memasuki lingkungan kampus, para lulusan SMA ini masih membawa mental penghafal dan malas berfikir ini ke dalam proses belajar.

Para lulusan kurang memiliki kemampuan menulis dengan baik. Ini adalah hasil dari pendidikan dasar hingga menengah atas yang kurang mendidik siswa untuk menulis, mengelaborasi, mengarang, dan menyusun tulisan secara logis dan runut. Ketika banyak tugas menulis di kampus, mahasiswa seringkali melakukan salin-tempel tulisan orang lain. Alasannya selain karena lemahnya kemampuan menulis juga sifat suka terhadap hal yang instan melalui ketersediaan informasi di internet. Ketika lulus, para sarjana akan sulit untuk menuangkan gagasan mereka dalam tulisan. Hasil tulisan mereka biasanya tidak logis, tidak menjawab pertanyaan, tidak memiliki gagasan yang utuh dan banyak terdapat kalimat yang rancu.

Ketidakmampuan dalam berfikir kritis untuk menyelesaikan masalah dan menulis ini ditambah dengan rendahnya kemampuan berkomunikasi dari para sarjana. Massalisasi pendidikan yang tidak diikuti dengan perekrutan dosen yang seimbang dengan mahasiswa membuat proses pembelajaran tidak efektif.

Proses diskusi, tanya jawab, argumentasi, dan komunikasi yang intens dalam kelas tergantikan dengan proses ceramah satu arah oleh dosen. Pendidikan yang seharusnya berlangsung interaktif menjadi seminar-seminar di kelas besar. Mahasiswa kemudian jarang untuk bertanya dan melakukan presentasi.

Hasilnya adalah rendahnya kemampuan berkomunikasi di kalangan lulusan perguruan tinggi. Mereka tidak mampu merumuskan pertanyaan dengan tepat, mengemukakakan pendapat, menjembatani berbagai pihak, menyimak, dan berdiskusi. Mereka akan terlihat gugup dan malu-malu dalam simulasi kelompok diskusi terfokus yang ada pada proses rekrutmen karyawan perusahaan.

Lemahnya kemampuan lulusan perguruan tinggi dalam tiga hal ini membuat mereka tidak banyak terserap di dunia kerja. Pengangguran ini pada gilirannya akan berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di negara. Karena sejatinya kemajuan negara tidak ditentukan oleh sumber daya alam dan luas wilayahnya melainkan dari seberapa kompetitif sumber daya manusianya. Dalam dunia yang semakin lintas batas ini kompetisi berlangsung secara global. Mereka yang tidak kompetitif akan tertinggal. 

Salah satu jalan untuk menjadi negara yang kompetitif adalah dengan memperbaiki mutu pendidikan tinggi kita. Bukan dengan mengganti rektor di berbagai perguruan tinggi di Indonesia dengan rektor asing sebagaimana diutarakan Presiden Jokowi. Karena itu merupakan manifestasi dari mental inlander.

Ini juga merupakan tamparan bagi para rektor yang saat ini menjabat. Pemerintah seharusnya dapat melakukan intervensi melalui Kemenristekdikti dalam pemilihan rektor. Karena banyak sekali pertimbangan politis dan sifat yang medioker dalam pemilihan rektor. Hasilnya adalah kemampuan manajemen yang buruk dari para rektor. Pada gilirannya perguruan tinggi akan gagal menjadicenter of excellence. Para lulusannya seperti buih di lautan. Banyak tapi tidak berkualitas.

(Sumber : http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/16/07/10/oa3n72388-pengangguran-sarjana-part2)